Sekularisasi, Kultur Digital dan Geliat Agama: Tantangan dan Sketsa Berteologi Digital di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.37196/kenosis.v7i2.253Keywords:
Sekularisasi, Kultur digital, Geliat agama, teologi Inkarnasi, InstitusionalisasiAbstract
Secularization and digital culture are the influencing aspects that define the characteristics of religious societies in the 21st century. As a formation of the history of social change, these two elements greatly determine the efforts of religion, in doing theology and church services at the present, in the term of digital theology. Indeed, It is determined by the surprising rise of the COVID-19 pandemic which forces religious efforts to deal with digital things. As a new experience, digital theology seeks a form as to how the social change made it. Elements such as secularization, digital culture, and church formation become the important aspects to determine the direction of doing theology. Based on these new experiences, this paper will describe a sketch of how to doing digital theology in Indonesia, especially in the case of GMIT. With the theology of incarnation as the frame, digital theology puts the relational substance (God-human, among human relationships and between the real and digital world. As the digital world as a locus, digital theology therefore over a liquid digital church and the presensia-accompaniment model of a church mission to be the sketch of doing theology in the digital context in Indonesia.
Abstrak
Sekularisasi dan kultur digital adalah dua elemen yang berpengaruh dalam ciri keberagamaan masyarakat religius di abad ke 21. Sebagai bentukan dari sejarah perubahan sosial, kedua hal ini sangat menentukan upaya beragama, berteologi dan bergereja dalam konteks kekinian. Salah satu istilah yang dikedepankan adalah teologi digital. Bentuk berteologi digital saat ini justru didorong oleh situasi pandemi COVID-19. Sebagai sebuah pengalaman dadakan dan baru berteologi secara digital menjadi upaya mencari bentuk mengikuti perubahan sosial` Elemen seperti sekularisasi dan kultur digital dan geliat beragama menjadi aspek yang menentukan arah berteologi. Dengan berpatokan pada pengalaman baru inilah tulisan ini berkenan memberikan gambaran sketsa berteologi digital di Indonesia melalui pengalaman bergereja di GMIT. Payung teologi inkarnasi yang dipakai sebagai usulan berteologi, mendasari keterkaitan relasional baik antara Allah dan manusia, antar-manusia maupun antara  dunia real dan digital. Dalam memaknai ruang digital menjadi locus berteologi, maka sketsa gereja cair digital, dan model kehadiran digital presensia dan accompaniment menjadi sebuah tawaran bergereja dan bermisi dalam konteks digital di Indonesia.
Downloads
References
Anderson, Keith. The Digital Catedral: Networked Ministry in a Wireless World. New York: Morehouse Publishing, 2015.
“Arti Kata Sekuler - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online.†Accessed December 29, 2021. https://kbbi.web.id/sekuler.
Berger, Peter L. The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion. New York: Doubleday & Company, 1969.
Cox, Harvey. The Secular City. Princeton University Press, 2013.
Fajar Pebrianto. “Riset: Belanja Online Meningkat Pesat Di Tengah Pandemi Covid-19 - Bisnis Tempo.Co.†Tempo.co, 2020. https://bisnis.tempo.co/read/1331198/riset-belanja-online-meningkat-pesat-di-tengah-pandemi-covid-19.
Karl Muller, Theo Sundermeier, Sthephen B. Bevans, and Richard H Bliese. Dictionary of Mission : Theology, History, Perspectives,. Maryknol NY: Orbis Books, 1997.
Kuijper, Arie D. Missiologia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016.
Kusuma, Hendra. “Nasib Penjaga Gerbang Tol Pasca Non Tunai.†Detik News, 2019. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4614214/nasib-penjaga-gerbang-tol-pasca-non-tunai.
Lane, Tony. “Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani.†Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007, 126–28.
Magnis-Susesno, Franz. “Charles Taylor, A Secular Age, Cambridge, Mass./London: The Belknap Press of Harvard University Press, 2007, 874 Hlm.†DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA 12, no. 1 (January 1, 2013): 125–30. https://doi.org/10.36383/diskursus.v12i1.124.
Pando, B Melkyor, and Widi. Hiruk Pikuk Jaringan Sosial Terhubung: Refleksi Filsafat Teknologi Atas Jaringan Sosial Terhubung. Yogyakarta: Kanisius, 2014.
Root, Andrew. Revisiting Relational Youth Ministry: From a Strategy of Influence to a Theology of Incarnation. InterVarsity Press, 2007.
Sartika, Meitha, and Hizkia A Gunawan. Ecclesia in Transitu: Gereja Di Tengah Perubahan Zaman. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018.
Schwab, Klaus. Revolusi Industri Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2019.
Singgih, Emanuel Gerrit. Dari Ruang Privat Ke Ruang Publik: Sebuah Kumpulan Tulisan Teologi Kontekstual Emanuel Gerrit Singgih. Yogyakarta: PT Kanisius, 2020.
“SINODE GMIT – Gereja Masehi Injili Di Timor.†Accessed December 30, 2021. https://sinodegmit.or.id/.
Sugiharto, Bambang. Kebudayaan Dan Kondisi Post-Tradisi: Kajian Filosofis Atas Permasalahan Budaya Abad Ke-21. Yogyakarta: Kanisius, 2019.
Sutcliffe, Steven J, and Ingvild Saelid Gilhus. New Age Spirituality: Rethinking Religion. New York: Routledge, 2014.
Taylor, Charles. A Secular Age. Mussachusetts: Harvard university press, 2007.
Ward, Peter. Liquid Church. Oregon: Wipf and Stock Publishers, 2013.
Zaluchu, Sonny Eli. “Mengkritisi Teologi Sekularisasi.†KURIOS (Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen) 4, no. 1 (2018): 26–38.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Penulis yang naskahnya diterbitkan menyetujui ketentuan sebagai berikut:
- Hak publikasi atas semua materi naskah jurnal yang diterbitkan/dipublikasikan dalam situs E-Journal KENOSIS ini dipegang oleh dewan redaksi dengan sepengetahuan penulis (hak moral tetap milik penulis naskah).
- Ketentuan legal formal untuk akses artikel digital jurnal elektronik ini tunduk pada ketentuan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike (CC BY-NC-SA), yang berarti Jurnal KENOSIS tidak memiliki tujuan komersial, berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan artikel tanpa meminta izin dari Penulis selama tetap mencantumkan nama Penulis sebagai pemilik Hak Cipta.
- Naskah yang diterbitkan/dipublikasikan secara cetak dan elektronik bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Selain tujuan tersebut, dewan redaksi tidak bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap hukum hak cipta.