Dari Liturgi Baptisan menuju Liturgi Kehidupan: Menjadi Gereja bagi Perempuan Korban Kawin Tangkap
DOI:
https://doi.org/10.37196/kenosis.v6i2.181Abstract
This article is a feminist liturgical imagination that aims to provide a recovery space for women victims of sexual violence. With the background of women experience as victims of marriage by abduction, this paper presents imaginative theological thoughts using the views of Ruether and Berger in the framework of providing an ecclesiastical ritual in favor of women victims. The church must stand with women victims of sexual violence. The support of the church can be shown through the provision of a liturgical space where women victims can share their experiences and at the same time reclaim one of the important symbols in the Christian liturgy, namely water as a sacred symbol of restoration. This ecclesiastical ritual is a space for women victims to show reversal movements, from circumstances and events where water marks past experiences of violence, to circumstances and events where water marks the present and future experience of healing.
Abstrak
Tulisan ini merupakan suatu imajinasi liturgi feminis yang bertujuan menyediakan ruang pemulihan bagi perempuan korban kekerasan seksual. Dengan dilatari oleh pengalaman korban kawin tangkap, tulisan ini menyuguhkan pemikiran imajinatif teologis dengan menggunakan pandangan Ruether dan Berger dalam kerangka menyediakan suatu ritual gerejawi yang berpihak pada perempuan korban. Gereja mesti berdiri bersama perempuan korban kekerasan seksual. Keberpihakan gereja itu dapat ditunjukkan melalui penyediaan ruang liturgis dengan mana perempuan korban dapat membagi pengalamannya sekaligus mengklaim kembali salah satu simbol penting dalam liturgi Kristen yaitu air sebagai simbol sakral yang memulihkan. Ritual gerejawi ini merupakan ruang bagi perempuan korban untuk menunjukkan gerakan berbalik arah, dari keadaan dan peristiwa di mana air menandai pengalaman kekerasan di masa lampau, menuju keadaan dan peristiwa di mana air menandai pengalaman pemulihan di masa kini dan masa yang akan datang.
Downloads
References
Bauman, Christy Angelle. 2019. Theology of the womb: Knowing God through the body of a woman. Eugene: Cascade Books.
Berger, Teresa. 2005. Fragments of real presence: liturgical traditions in the hands of women. New York: Crossroad Pub. Co.
Gereja Kristen Sumba. 2005. Tata cara kebaktian hari minggu dan formulir-formulir gerejawi. Waingapu: BPMS GKS.
Isherwood, Lisa, dan Elizabeth Stuart. 1998. Introducing body theology. Sheffield: Sheffield Academic Press.
Kapita, Oe. H. 1976a. Masyarakat Sumba dan adat istiadatnya. Waingapu: Panitia Penerbit Naskah-naskah Kebudayaan Daerah Sumba, Dewan Penatalayanan Gereja Kristen Sumba.
Procter-Smith, Marjorie. 1990. In Her Own Rite: Constructing Feminist Liturgical Tradition. Nashville: Abingdon Press.
Ruether, Rosemary Radford. 1985. Women-church: theology and practice of feminist liturgical communities. 1st ed. San Francisco: Harper & Row.
Tunggul, Nggodu. 2004. Etika dan moralitas dalam budaya Sumba. Jakarta: Pro Millenio Center.
Taranau, Aprissa. 2017. Menggugat Praktik Kawin Tangkap dalam Budaya Perkawinan di Waikabubak, Sumba Barat, NTT. dalam perdamaian dan keadilan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Wootton, Janet. 2000. Introducing a practical feminist theology of worship. Cleveland, Ohio: The Pilgrim Press.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Penulis yang naskahnya diterbitkan menyetujui ketentuan sebagai berikut:
- Hak publikasi atas semua materi naskah jurnal yang diterbitkan/dipublikasikan dalam situs E-Journal KENOSIS ini dipegang oleh dewan redaksi dengan sepengetahuan penulis (hak moral tetap milik penulis naskah).
- Ketentuan legal formal untuk akses artikel digital jurnal elektronik ini tunduk pada ketentuan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike (CC BY-NC-SA), yang berarti Jurnal KENOSIS tidak memiliki tujuan komersial, berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan artikel tanpa meminta izin dari Penulis selama tetap mencantumkan nama Penulis sebagai pemilik Hak Cipta.
- Naskah yang diterbitkan/dipublikasikan secara cetak dan elektronik bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Selain tujuan tersebut, dewan redaksi tidak bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap hukum hak cipta.