DARI SEGREGASI WILAYAH KE SEGREGASI SOSIO-KULTURAL: STUDI KASUS WILAYAH MANGGA DUA DAN AIR MATA CINA, KOTA AMBON

Penulis

  • Mark Ferdinandus Institut Agama Kristen Negeri Ambon
  • Hanry Harlen Tapotubun Institut Agama Kristen Negeri Ambon

DOI:

https://doi.org/10.51689/nojisok.v5i1.1143

Abstrak

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan alasan di balik semakin kuatnya segregasi antara masyarakat di wilayah Mangga Dua (Kristen) dan Air Mata Cina (Islam) setelah konflik sektarian bernuansa agama di Ambon pada periode 1999-2004. Meski berdekatan secara geografis, wilayah Mangga Dua mayoritas dihuni oleh kelompok Kristen, sedangkan wilayah Air Mata Cina dihuni oleh mayoritas kelompok Islam. Secara historis, model segregasi pemukiman ini tampaknya merupakan produk dari upaya pengamanan selama era konflik di Ambon, yang bertujuan untuk meredam pertikaian antar-kelompok. Nmaun demikian, segregasi pemukiman antara kedua kelompok masih tetap terpelihara hingga kini meskipun konflik telah lama berlalu. Berdasarkan fakta tersebut, penelitian dalam  artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan metode wawancara, observasi serta kajian pustaka. Lebih lanjut, analisis dalam artikel ini menggunakan landasan teori “modal sosial” oleh Robert Putnam yang menekankan pentingnya interaksi lintas kelompok dalam membangun solidaritas sosial. Berdasarkan temuan penelitian, penyebab utama segregasi antara kedua wilayah pemukiman tersebut antara lain: 1) trauma masa lalu yang memelihara ketakutan akan terjadinya konflik baru, dan 2) segregasi tempat tinggal dianggap sebagai langkah logis untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Hal tersebut kemudian berdampak kuat pada ketiadaan ruang untuk interaksi antara kedua kelompok, yang kemudian membentuk sebuah evolusi segregasi, dari yang semula hanya pemukiman menjadi segregasi sosial-budaya

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

Adriaansz, S. L., Lattu, I. Y. M., & Pilakoannu, R. T. (2019). PELA BOLA: MODAL SOSIAL PELA YANG DIBENTUK MELALUI SEPAKBOLA SEBAGAI KEKUATAN DALAM HUBUNGAN ISLAM-KRISTEN DI MALUKU. HUMANIKA. https://doi.org/10.14710/humanika.v26i2.24496

Kalay, N. S. (2020). SEGREGASI PASCA KONFLIK, COMMUNAL DISCOURSE DAN MATERIAL CULTURE BAGI PENGUATAN AGAMA DAN KEBANGSAAN DI MALUKU. ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi Dan Studi Agama. https://doi.org/10.37429/arumbae.v2i1.414

Marschall, M. J. (2016). Robert D. Putnam,. The Oxford Handbook of Classics in Public Policy and Administration.

Miller, F., & Miller, P. (2021). Transgenerational trauma and trust restoration. In AMA Journal of Ethics. https://doi.org/10.1001/AMAJETHICS.2021.480

Moleong, L. J. (2017). Metode Penelitian Kualitatif, cetakan ke-36, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 6.

Nutfa, M., & Anwar, S. (2015). Membangun Kembali Perdamaian : Rekonsiliasi Konflik Komunal Berbasis Trust. Perennial.

Olzak, S., Shanahan, S., & McEneaney, E. H. (1996). Poverty, segregation, and race riots: 1960 to 1993. American Sociological Review. https://doi.org/10.2307/2096395

Purbani, W. (2005). Analisis Wacana/Discourse Analysis. Lokakarya Penelitian UBAYA.

Roos, D. O. (2021). Segregasi Sosial Pascakonflik 1999DI Kota Ambon. Jurnal Inovasi Penelitian.

Weidmann, N. B., & Salehyan, I. (2013). Violence and Ethnic Segregation: A Computational Model Applied to Baghdad. International Studies Quarterly. https://doi.org/10.1111/isqu.12059

Diterbitkan

2024-06-30